gen tahu kalau semisal dia kenapa-kenapa enggak perlu bantuan orang lain, tapi tinggal sat set sat set ngerjain sendiri. Intan memang kerap kali berfikir bagaimana menjadi orang yang bisa segalanya. Pasti asik, itu yang Intan pikirkan. Karena hidup Intan hanya sebatas rebahan, makan, belajar, dan begitu terus saja, karena circle nya disana. Intan memang anak yang terlihat terkekang tapi selagi Intan patuh ayahnya pasti enggak akan marah sama dia. Tapi sekarang ayahnya tidak terlalu mengekangnya, tapi tetap saja kalau aku pergi sama cowok, Ayah pasti akan langsung sedih dan sendu. Itulah mengapa Intan ingin cepat menjadi kaya dan pintar dengan usahanya sendiri.

Intan sudah sampai dirumah Kak Putera, hari ini Intan akan berboncengan denga Kak Putera karena Intan ingin bonceng saja,

”Kak Putera main yok! ” Panggil Dion benar-benar seperti anak lain yang memanggil anak lain juga. Kak Putera keluar dengan sedikit tersenyum karena mendengar bagaimana aku memanggil Kak Putera tadi.

”Kek bocil tahu enggak loh, ” kata Kak Putera yang bahkan belum selesai tertawanya.

”Lo kenapa sih ketawa Mulu, lagi happy yah, bagi-bagi dong happynya. ” Kata Intan.

”Iya Lo mood banget kalau masalah kayak gini. ” Jawab Putera yang sudah mengambil posisi kemudi, mereka berangkat menggunakan motor Intan.

”Tapi aku belum bikin SIM. ” Kata Intan.

”Gampang entar gue bikinin deh. ” Kata Putera.

”Beneran kak? Emang bisa? ” Kata Intan

”Bisa kan the power of model. ” Kata Putera yang pengen ngelucu tapi kayaknya enggak ada yang lucu dari perkataannya. Intan menikmati dibonceng cowok ganteng, kapan lagi kan duduk berdua dimotor sama senior ganteng

”Lo pernah lewat sini belom Tan? ” Tanya Putera.

”Kayaknya belum pernah, soalnya sedikit asing. ”kata Intan. Putera hanya diam dan kali ini fokus nyetir, sedangkan Intan tengah sibuk menghirup bau tubuh Kak Putera yang seperti bau cokelat. Intan suka dengan bau maskulin para cowok, Intan pengen beli satu aja parfum yang kaya mereka.

Tak lama mereka sampai di rumah Cece Lisa, setelah bersana Cece, Intan tetap saja berboncengan Putera karena memang Puteranya yang memintanya, agar dia saja yang membawa motor Intan. intan si senang banget di bonceng, daripada nyetir jauh sakit pergelangan tangan, apalagi Intan sudah sering mulai basah telapak tangannya. Jadi sedikit tidak nyaman jika berkendara terlalu jauh, apalagi dengan mereka yang membawa kecepatan berkendara di atas 70, kalau Intan yang penting sampai aja udah cukup. Lama diperjalana, mereka pun sampai ditempat tujuan, mungki. Karena baru selesai hujan, jadi belum ada banyak orang yang datang ke acara pernikahan ini, Intan langsung saja duduk dan mengambil satu gelas air mineral.

Selesai acara kondangan, mereka pun ke rumah Cece Lisa, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, Intan meminta izin pada Cece Lisa untuk mengizinkannya menginap semalam dirumahnya. Cece Lisa emang welcome banget, lagian dirumahnya ada banyak kamar kosong, jadi Intan bisa leluasa memilih kamar mana yang mau Intan tempati. Intan juga diberi pakaian berikut dalaman, sebagai ganti untuk besok

Intan merasa tersentuh, Cece Lisa memang selalu paham kondisi aku. Kayak bukan lagi sahabat tapi seorang kakak yang baik terhadap adiknya. Apalgi Intan yang bahkan rasanya punya kakak atau adik dia enggak punya. Tapi kalau lihat yang lainasin sama adiknya ya Intan kadang iri sih tapi enggak sampai dia minta adik ke orang tuanya.

点击屏幕以使用高级工具 提示:您可以使用左右键盘键在章节之间浏览。

You'll Also Like